Renungan sekilas tentang waktu

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.” (Ibnu ‘Amr RA)

Multi-tasking – mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan adalah hal yang seringkali menjerat kehidupan saya dan orang-orang kebanyakan. kita jadi terbiasa melakukannya dengan dalih kesibukan yang begitu banyak, sementara waktu itu tidak tak terbatas. Padahal bisa jadi kesibukan yang banyak itu letaknya pada koridor yang sama, yakni urusan duniawi. Ibarat sekecil apapun kendaraan dan selebar apapun ruas jalanan, kalau jumlah mobil dan motor terlalu banyak niscaya akan macet juga bukan? Pada intinya, menumpuk pekerjaan di dalam satu waktu itu sama sekali ga sehat dan jauh dari hasil yang memuaskan (baca di sini) .

Tapi jangan salah, terkadang semua kesibukan itu berawal dari niat mulia, katanya sih “ingin menolong orang banyak.” Siapa dong yang tidak ingin seperti Clark Kent? Seorang pegawai kantoran yang merangkap sebagai penyelamat Kota Metropolis dari angkara murka. Permasalahannya adalah cari kerja saat ini itu tidak gampang (curhat nih), dan jadi superhero itu adalah nasib, karena titisan, atau karena digigit serangga mutan. We can never be superhero indeed

Maka yang terbaik daripada berusaha menjadi superman adalah menentukan skala prioritas. Inilah pesan mulia dari sahabat Nabi saw. yg saya kutip di atas.Kita diminta bersikap seadil-adilnya untuk dua perkara yang besar yang sering menyibukkan diri manusia, yakni perkara dunia dan akhirat. Karena adil itu dekat dengan keberhasilan dan takwa, dan takwa akan mengantarkan kita pada cita2 terbaik yakni “Surga” dan segala nikmat di dalamnya.

Kepada dunia, kita harus menjadikannya sebagai lahan untuk bereksperimen, seolah kita hidup untuk selama-lamanya. Namanya eksperimen pasti terkadang sukses atau malah berujung pada kegagalan. Tetapi hari esok selalu ada untuk perkara dunia. Saat kita kehabisan uang, ia akan kembali di awal bulan alias gajian. Saat sakit hati melanda karena asmara, jodoh pasti bertemu di pelaminan (ya iyalah), dan banyak contoh lainnya. Sebab di dunia, semua nikmat itu sudah Allah tentukan buat kita bro.

Tapi kepada akhirat, kita harus memenuhi kewajibannya dengan segera, seolah besok adalah waktu kembalinya kita ke haribaan Ilahi, meninggalkan dunia dan segala perhiasannya yang tak henti memenuhi angan-angan. Pernahkah kita cermati? ternyata menghadirkan imaji kematian bisa memberi efek besar pada kondisi mental dan fisiologis seseorang. Di balik resah yang timbul dalam menjemput kematian, kemampuan sistem saraf dalam menangkap dan mengolah informasi akan meningkat drastis, menjadikan waktu seolah bergerak lambat. Fenomena Slow motion preception ini memberi ruang bagi diri kita untuk menimbang dan mengambil keputusan dengan lebih baik. If today is our last day..we would try our best for a sweet ending. Betul ga?

Tak ayal, seperti yang tertulis dalam blog seorang teman. Kematian adalah konsep kecerdasan yang menyentuh dimensi intelektual, emosional, hingga spiritual. Guideline hidup seorang muslim – Qur’an & Hadits – pun selalu menempatkan prioritas tinggi pada kematian & urusan akhirat tanpa sedikitpun memandang hina perkara dunia, sebatas pada apa yang bisa kita raih untuk perbekalan di akhirat kelak. Pepatah Jawa bilang “hidup itu cuma sebentar, jomblonya yang kelamaan” .. eh (?)


Mari sob, kita sama-sama cari tahu apa yang bermanfaat untuk akhirat kita kelak. Beruntungnya kita sebagai muslim, karena tidak ada sekecil pun amal – makan, tidur, bersin, dll – melainkan semua bisa bernilai ibadah 😀

#happymuharrom1437H #latepost

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s